Ira mendatangiku, wajahnya sangat asam. Apa yang ingin dia bicarakan.
“hai, apa kabar? Udah lama ya ga ketemu” sapaku dengan senyum sok manis
“iya, baik. Ga usah basa basi deh langsung aja”
“oke, ira mau ngomong apa sih, kayaknya serius banget?” tanyaku sambil cengengesan
“udah deh, ga usah sok imut. Gue peringatin ya elo. Jangan detekin fikri lagi, ga usah telpon dia, ga usah sms dia. Mending jauh-jauh deh lu dari idup dia. Jauh-jauh dari kehidupan gue dan dia. Lu tu pantesnya kelaut sono”
“ira ngomong apa sih, ga enak banget omongannya”. Aku masih berusaha tersenyum, walupun itu getir. Ira terlihat sangat beringas.
“hubungan aku sama fikri itu Cuma sebatas rekan kerja. Kebetulan kami punya beberapa passion yang sama dalam pekerjaan. Dan memang kepentingan kami adalah urusan kerjaan. Itu aja kok”. Jelasku panjang lebar.
“udah lah, lo tu ga usah banyak alesan. Pinter banget ya lu ngelesnya. Mending sekarang lu pergi dari rumah ini. Gue udah muak ngeliat elu”.
“aku tau, kamu deket sama keluarga fikri. Tapi ini kan bukan rumah kamu. Aku mau nunggu ibunya fikri pulang dan pamitan”.
“ga perlu, udah sana lu pergi yang jauh dan ga usah balik lagi. Biar gue yang ngomong ke ibunya fikri. Pergi sana lu”.
“aaahhh....” Kurasakan tubuhku terdorong kebelakang.
“ira.. ga perlu mendorongku. Aku bisa pergi sendiri”. Kataku marah.
------------------------------------------------000----------------------------------------------------
Aku segera mengambil mobil dan pulang ke kantor, sebelum sampai kantor aku berhenti dipinggir jalan. Aku ga bisa menahan tangis yang sedari tadi aku tahan. Aku menangis sendirian dipinggir jalan. Aku ingin menumpahkan segala perasaan kecewaku, aku tetap ingin terlihat ceria dikantor. Aku tak ingin membuat khawatir semua orang terutama fikri.
Tokk tokk tokk..
Seperti ada yang mengetuk kaca mobilku. Aku menoleh. Astaga ternyata itu fikri. Aku merunduk lagi, aku langsung menghapus air mataku dan berusaha tersenyum. Lalu kubuka kaca mobilku.
“kamu kenapa?” tanya fikri cemas
“kenapa apanya” kataku seakan tidak terjadi apa-apa.
“kamu abis nangis ya? Kamu kenapa? Siapa yang bikin kamu nangis?” cecarnya tak puas
“aku ga apa-apa ki, kok kamu bisa ada disini. Kamu tau dari mana aku di sini?” aku balik bertanya
“uhmm itu...” fikri terlihat gugup. “aku.. aku ingin membeli sesuatu di supermarket lalu aku melihat mobilmu dan kamu ternyata di dalam sedang menangis. Tak lama kamu merunduk. Aku fikir kamu pingsan”
“apa.. ahahahah... pingsan..?” aku tertawa lepas. Lucu sekali mendengar alasannya itu, lebih lucu lagi ekspresinya. Seperti anak kecil yang tertangkap basa melakukan kesalahan tapi mencoba mengelak dengan mengatakan hal yang terdengar cute ditelinga.
“itu lebih baik. Tersenyum dan tertawa lepas seperti itu. Dari pada tadi. Jelek” godanya
“uhhhh dasar.walaupun jelek, aku sangat cute dan manis” ujarku PD
“iya, kamu memang manis... Dan cute...”
Senang sekali mendengarnya, dia mengatakannya dengan tulus. Aku jadi sangat malu.
“aduh, baru dipuji dikit aja, udah merah gitu” godanya lagi
“ih siapa yang merah, merah apanya, sembarangan” kataku salah tingkah karena malu
“cute..” gumamnya
“ngomong-ngomong kenapa kau menangis? Ada apa sebenarnya? Ceritakanlah” tanyanya penasaran.
“tidak ada, bukan apa-apa. Oh iya aku lupa izin pada ibumu. Tadi aku pulang buru-buru. Jadi....”
“oh, aku sudah bilang pada ibu”
“eh?”
“oh iya, kau tadi menelponku ya?”
“aku.. menelpon? Tidak” kataku mantap. Lalu kuperiksa hanphoneku. “oh iya, ada. Di dial call. Tapi seingatku aku tidak menelpon. Apa salah pencet ya. Maaf ya?” jelasku polos.
“kau benar-benar tidak ingin cerita?” tanyanya lagi masih penasaran
“apaan si lo? Yuk balik kekantor”. Kataku lagi
Bukankah kau sudah tahu. Batinku.
Flash back
Ira mungkin sudah dipuncak kesabarannya. Dia mengajakku bicara empat mata saja. Ibu fikri sedang tidak ada. Adiknya pun diajak oleh sepupu ira pergi. Akhirnya tinggal aku berdua ira. Fikri harus tau tentang ini. Aku menelponnya, dia mendengar percakapan kami.
“oke, ira mau ngomong apa sih, kayaknya serius banget?” tanyaku sambil cengengesan
“udah deh, ga usah sok imut. Gue peringatin ya elo. Jangan detekin fikri lagi, ga usah telpon dia, ga usah sms dia. Mending jauh-jauh deh lu dari idup dia. Jauh-jauh dari kehidupan gue dan dia. Lu tu panteslah kelaut sono”
“ira ngomong apa sih, ga enak banget omongannya”. Aku masih berusaha tersenyum, walupun itu getir. Ira terlihat sangat beringas.
“hubungan aku sama fikri itu Cuma sebatas rekan kerja. Kebetulan kami punya beberapa passion yang sama dalam pekerjaan. Dan memang kepentingan kami adalah urusan kerjaan. Itu aja kok”. Jelasku panjang lebar.
“udah lah, lo tu ga usah banyakalesan. Pinter banget ya lu ngelesnya. Mending sekarang lu pergi dari rumah ini. Gue udah muak ngeliat elu”.
“aku tau, kamu deket sama keluarga fikri. Tapi ini kan bukan rumah kamu. Aku mau nunggu ibunya fikri pulang dan pamitan”.
“ga perlu, udah sana lu pergi yang jauh dan ga usah balik lagi. Biar gue yang ngomong ke ibunya fikri. Pergi sana lu”.
“aaahhh....” Kurasakan tubuhku terdorong kebelakang.
“ira.. ga perlu mendorongku. Aku bisa pergi sendiri”. Kataku marah.
Lalu aku menutup telponnya. Aku bangkit dan berkata:
“dengarkan aku baik-baik. Aku memang menyukai fikri. Aku sangat menyukainya. Setelah tahu dia telah menghitbahmu, aku rasa aku harus mundur. Tapi melihat perlakuan kasarmu terhadapku. Aku rasa aku akan benar-benar merebut fikri darimu. Bersiap-siaplah”. Kataku serius
“apa kau sedang mengancamku?” suara ira sedikit bergetar
“aku tidak mengancam. Aku sungguh-sungguh akan melakukannya. Lihat saja nanti”
Kulihat wajah ira benar-benar merah. Dia sangat kesal, aku malah takut bila dia akan berbalik dan menghajarku. Hehe..
End of flash back.
-----------------------------------------------0000-------------------------------------------------
cerita ini adalah fiksi belaka, sedang mencoba belajar menulis.. mohon di RCL (respons, comment, like). kalo ada respon mau post part selanjutnya.. hehe..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan dikomentari: